TUDEPOIN.COM – Festival Film Cannes 2024 memilih adegan dari film “Rhapsody in August” (1991) sebagai poster tahun ini.
Karya ini diselesaikan pada tahun-tahun terakhir kehidupan Kurosawa, pada usia 80 tahun.
Di saat banyak orang berpikir tentang pensiun, Kurosawa menantang dirinya dengan topik kompleks: Kehidupan manusia di era pascaperang modern.
Sinopsis Rhapsody in August
Film ini berlatar 45 tahun setelah bom atom dijatuhkan di Nagasaki oleh Amerika pada tahun 1945.
Ceritanya berpusat pada empat cucu yang tinggal bersama Nenek Kane (Sachiko Murase), yang suaminya tewas akibat bom atom. Sementara itu, anak-anaknya berlibur di Hawaii atas ajakan Suzujiro, saudara laki-laki Kane, yang pindah ke Amerika beberapa tahun sebelumnya. Di hari-hari terakhir hidupnya, Suzujiro ingin bertemu kembali dengan Kane.
Kane ragu-ragu untuk bertemu saudaranya karena masa lalu yang menyakitkan akibat bom atom yang dijatuhkan Amerika. Menyadari konflik yang belum terselesaikan, putra Suzujiro, Clark (Richard Gere), terbang ke Jepang untuk meminta maaf kepada Kane.
Film ini menggambarkan bagaimana manusia menghadapi masa lalu dengan pesan perdamaian. Kurosawa memulai film dengan memperkenalkan konflik generasi, menempatkan Kane dalam situasi harus tinggal bersama cucu-cucunya saat orang tua mereka berada di luar negeri.
Kane digambarkan sebagai wanita Jepang tradisional yang harus menghadapi dan memahami kekejaman perang. Sementara cucu-cucunya, generasi pascaperang, hanya mengetahui tentang bom atom melalui buku dan surat kabar. Orang tua mereka bahkan berusaha menghindari topik ini untuk tidak menyakiti saudara mereka di Amerika, yang mencari peluang investasi di ladang nanas di Hawaii.
Melalui banyak cerita aneh yang diceritakan Kane, cucu-cucunya menyadari dampak bom atom meskipun perang sudah lama berakhir. Mereka mulai mengeksplorasi sejarah Nagasaki, tentang kakek mereka yang tewas dalam ledakan dan tentang nenek mereka sendiri.
Perkembangan Jepang membawa kebangkitan ekonomi dan infrastruktur di Nagasaki, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat. Impor budaya menyebabkan generasi muda mengikuti gaya hidup modern ala Barat. Namun, luka masa lalu masih ada dan memengaruhi korban seperti Kane.
Kenangan membuat Kane terobsesi dengan Amerika hingga ia bertemu Clark, orang yang lahir di masa pascaperang. Clark muncul di rumah Kane pada peringatan 45 tahun pemboman, yang juga merupakan hari kematian suaminya. Ia merasa bersalah atas tindakan negaranya terhadap Jepang. Kane tidak menyalahkan Clark, tetapi menghargai kehadirannya. Perang merenggut suaminya, tetapi bertahun-tahun kemudian, hidup “menggantinya” dengan pertemuan yang tak terlupakan.
Kurosawa menunjukkan keahliannya dalam bercerita melalui detail metaforis: cucu yang mencoba memperbaiki organ kakeknya yang rusak, sebagai metafora untuk mengatasi dampak perang yang dialami generasi muda. Saat Clark bertemu Kane, gitarnya sedang diperbaiki.
Kurosawa juga menonjolkan pendapatnya melalui gambar. Dalam adegan di mana Kane mengingat kolom asap berbentuk jamur setelah bom dijatuhkan, Kurosawa mengubah pikiran karakter menjadi gambaran mata raksasa di langit, menciptakan efek visual yang mengesankan. Begitulah cara Kurosawa menunjukkan kengerian bom tersebut tanpa menjelaskan secara detail bagaimana ledakan terjadi.
Salah satu adegan simbolis adalah ketika Kane membayangkan dirinya pada hari bom dijatuhkan di Nagasaki 45 tahun lalu. Dalam adegan ini, karakter memegang payung dan melintasi lapangan saat badai mencari suaminya. Badai yang begitu dahsyat hingga payungnya terbalik, menciptakan citra wanita tangguh yang tidak takut menghadapi kejadian terkini.
Penyelenggara Cannes mengatakan karya tersebut berkontribusi dalam meringankan luka perang dan membantu orang untuk tidak melupakan sejarah. “Di dunia yang rapuh ini, Festival Film Cannes menegaskan bahwa sinema adalah tempat perlindungan untuk berekspresi dan semangat yang mendalam,” kata perwakilan program tersebut.
Akira Kurosawa dianggap sebagai sutradara ulung perfilman Jepang dan dunia, telah menghasilkan banyak karya yang sangat diapresiasi seperti “Rashōmon” (1950), “Seven Samurai” (1954), “Yojimbo” (1961), dan “Ran” (1985). Beberapa kritikus mengatakan bahwa “Rhapsody in August” memiliki plot yang lebih sederhana dibandingkan film-film sebelumnya, namun tetap memberikan pemikiran mendalam kepada penonton, mengingatkan mereka akan dampak bom atom.






